RELEVANSI EFISTEMOLOGI MASLAHAH NAJAMUDDIN AT-TUFI DALAM ISTINBATH HUKUM ANAK SEBAGAI MAHKUM ALAIH

  • Zaenudin Mansyur
Keywords: Efistemologi, maslahah, najamudin at-Thufi, anak, mahkum alaih, transaksi muamalah kontemporer

Abstract

Abstract: This paper investigates the relevance of epistemological principles of maslahah initiated by at-Thufi in determining children as mahkum alaih particularly in contemporary muamalah transactions. At-Thufi is consistent with his principle of prioritizing maslahah instead of nash or ijma’ with no beneficial factors since maslahah and mafsadah cases in legal matter can be determined by independents or authorities and Ijma’ cannot become justifying tool for reasoning. His unique statement is extremely relevant to the children’s status as mahkum alaih in contemporary muamalah transactions, namely transaction is within muamalah boundary therefore it is legitimate for under age children  to undertake transactions due to their reasoning. Moreover, the purposes or benefits intended are the education to maturate children to carry out transactions and to provide facilitation to do so without leaving the home which are relevant to maslahah initiated by at-Thufi. Furthermore, the relevance of at-Thufi’s thought is not limited to that reasoning authority is prioritized instead of nash` dan ijma`, for instance, child’s reasoning ability is of more importance than waiting for the age of 17 and 18. Similarly, online transactions that are inevitable trends or habits for children in the contemporary age are extremely relevant to at-Thufi’s view that benefits founded by reasoning only work within the boundary of customary traditions.

Abstrak: Makalah ini mengakji tentang relevansi prinsip efistemologi maslahah yang digagas at-Thufi dalam penetapan anak sebagai mahkum alaih terutama dalam transaksi muamalah kontemporer. At-Thufi tetap dalam pendiriannya memenangkan maslahah daripada nash atau ijma`yang tidak ada unsur kemaslahatan di dalamnya karena perkara maslahah dan mafsadah dalam soal hukum dapat ditentukan oleh independen atau otoritas akal. Nash dan ijma` tidak bisa menjadi alat konfirmasi terhadap akal. Statemennya yang unik ini sangat relevan dengan status anak yang dijadikan sebagai mahkum alaih dalam transaksi muamalah kontemporer, yaitu transaksi merupakan wilayah muamalah maka anak yang dibawah umur sah-sah saja melakukan transaksi karena kemampuan akal yang dimilikinya. Apalagi tujuan atau kemaslahatan yang dihajatkan adalah edukasi dalam mendewasakan anak untuk melakukan transaksi serta memberikan keringan dalam melakukannya tanpa harus keluar rumah tentu sangat relevan dengan maslahah yang digagas at-Thufi, yaitu menetapkan tujuan lebih penting daripada sarana dalam istinbath hukum. Selanjutnya relevansi pemikiran at-Thufi ini tidak terhenti ketika menyatakan otoritas akal lebih dimenangkan daripada nash` dan ijma`, misalnya kemampuan akal anak lebih penting daripada menunggu usia sampai 17 dan 18 tahun. Begitu juga dalam aktivitas transaksi one line merupakan trend atau kebiasaan yang tidak bisa dihindari oleh anak zaman kontemporer tentu sangat relevan dengan pandangan at-Thufi bahwa kemaslahatan yang diprakarsai oleh akal hanya berlaku dalam wilayah adat kebiasaan.

References

Daftar Pustaka
al-Baihaqi, Sunan al-Kubrā (Beirut: Dār al-Kutub al-`Ilmiyah, 1991)

al-Ghazali, Abu Hamid, al-Mustashfa fi Ushul al-Fiqh, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.)

al-Ḥanafī, Zaeinuddin Ibrahim, al-Ashbāh wa An-Naẓāir, (Kairo: Dār al-Fikr, 1998).

--------------, Fatḥ al-Ghaffar bi al-Sharah al-Manar (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2001).

al-Jauzi, Ibnu, at-Taḥqīq fi Aḥādith al-Khilāf, (Beirut: Dār al-Kutub al-`Ilmiyah, 1415 H).

al-Kautsari, Zahil, Maqalah al-Kautsari” Mustafa Zaid, al-Maslahah fi Tasyri` al-Islam, (Beirut: Dar al-Fikr al-`Araby, 1964).

al-Mawardi, al-Hāwi al-Kābir, (Beirut: Dār al-Kutub al-`Ilmiyyah, 1999).

al-Syatibi, Abu Ishaq, Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari`ah, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th).

At-Thufi, Najamuddin, Nash Risalah al-Thufi dalam Abdul Wahab Khallaf, Mashadir al-Tasyri` al-Islami Fima La Nshsha Fih, (Kuawait: Darul Kalam, t.th).

-----------, Syarah al-Arba`in An-Nawawi; bi Tahqiq, Ahmad Haji Muhammad Usman (Makkah al-Mukarramah: al-Maktabah al-Makiyyah, 1988).

Auda, Jasser, Maqāṣid al-Sharī’ah as Philosophy of Islamic Law: A Systems Approach, (London: the International Institut of Islamic Thougth, 2007).

`Audah, Abdul Qādir, At-Tasyrī` al-Jinā Al-Islāmi, T.t.p., (Muasasah ar-Risālah t.th).

Basri, Rusdaya, Pandangan At-Thufi dan Asyatibi tentang Maslahat dalam Jurnal Hukum Diktum Vol 9, Nomor 2 Juli 2011Husen, Ibrohaim, “Beberapa Catatn tentang Reaktualisasi Hukum Islam”, dalam Munawir Sazali, Kontekstualisasi Ajaran Islam. Jakarta: IPHI Kerjasama dengan Paramadina, 1955.
Beik, Khudori, Uṣūl al-Fiqh, (Mesir: al-Maktabah al-Tijāriah al-Kubrā, t.t.),

Dahlan, Abdul Aziz, Ensiklopedia Hukum Islam, (Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1997).

Dewi, Gemala dkk., Hukum Perikatan Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2005).

Fathurrahman, Mukhtar Yahya, Dasar-dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islam, (Bandung: PT. Al-Ma`arif, 1986).

Fawaid, Imam, Konsep Pemikiran at-Thufi tentang Maslahah sebagai Metode Istinbath Hukum, Jurnal Isan al-Hal.

Hajar, Ibnu, Ad Durar al-Kaminah, (India: al-Ma`arif, 1314H).

Hanafi, Ahmad, Pengantar dan Sejarah Hukum Islam, (Jakarta: P.T. Bulan Bintang, 1984).

Hambal, Aḥmad bin, Musnad Aḥmad bin Hambal, (Mesir: Mu`assasah Qurtubah, t.th)
.
Hasan, Husen Hamid, Nazhariyah Maslahah fi al-Fiqh al-Islami, (Kairo: Dar an-Nahdlah al-Arabiyyah, 1971).

Haqqī, Abdurraḥmān Raden Aji, The Philosophy of Islamic Law of Transaction (Kuala Lumpur: Univison Press, 1999).

Jinan, Miftahul, Smart Parents for Smart Students, (Jakarta: Syigma Publising, 2010).

Khallaf, Abdul Wahab, Masadir al-Tasyri` la Nassa Fih, (Kuwait: Dar al-Qalam, 1972).

Khan, Qamarudiin, Pemikiran Politik Ibnu Taimiyyah, terj., Anas Mahyudin, (Bandung: Pustaka, 1983).

Muhaimin, dkk. Manajemen Pendidikan; Aplikasi dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah. (Jakarta, Kencana, 2009), 29. Lihat juga Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren. (Jakarta: INIS, 1994).

Mūsa, Kāmil, Aḥkām al-Mu’āmalat, (Bairut: Muasasah al-Risālah, t.t.).

Najm al-Din al-Thufi, al-Iksir fi Qawa`id al-Tafsir, (Kairo; Maktabah al-Adab, 1976).
Prinst, Darwan, Hukum Anak Indonesia, (Bandung: PT. Citra Aditya Bhakti, 2003).

Rajab, Ibnu, Zail Thabaqat al-Hanabilah, (Beirut: Dar al-Ma`rifah, t.th).

WJS. Porwadarminto, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: PN. Balai Pustaka, 1982).

Qardawi, Yusuf, Awami al-Sa`ah Wa al-Murunah fi al-syari`ah al-Islamiyah Bayna al-Inzibath wa al-Infirat (Kairo: Dar al-Tauzi` wa al-Nasyr al-Islamiyyah, 1994).

Zahrah, Muhammad Abu, Abu Ḥanifah Ḥayatuhu wa Ashruhu wa Arauhu wa Fiqhuhu (Mesir: Dar al-Fiqr al-Arabi, t.t.).

Zahrah, Muhammad Abu, Uṣūl al-Fiqh, (Dār al-Fikr al-‘Arabiy, t.th.).

Zaid, Mustafa, Al-Maslahah fi Tasyri` al-Islami wa Najamuddin atHufi, (Mesir: Dar al-Fikr al-Arabi, 1959).

Zaidan Abdul Karim, al-Wajiz fī Usul al-Fiqh, (Beirut; Muassasah Qurtubah, 1987).
Published
2018-12-31