KEDUDUKAN PEREMPUAN SEBAGAI SAKSI PERNIKAHAN MENURUT IBNU HAZM DAN RELEVANSINYA DENGAN KHI

  • Ahmad Zaini Ilmu Syariah FSH UIN Suanan Kalijaga Yogyakarta

Abstract

Saksi adalah orang yang mengemukakan keterangan untuk
menetapkan hak atas orang lain. Oleh karena itu, kesaksian merupakan hal
yang sangat penting sekali dalam hal menetapkan suatu peristiwa. Apabila
kesaksian ini dijalankan dengan lurus oleh setiap pribadi yang bersangkutan,
maka masyarakat secara luas juga akan terhindar dari bencana ketidakadilan
dan kecurangan.Ada dua fokus masalah yang diteliti dalam paper ini,
Bagaimana kedudukan perempuan sebagai saksi pernikahan menurut
Ibnu Hazm? Bagaimana relevansinya kedudukan perempuan sebagai saksi
pernikahan menurut Ibnu Hazm dan KHI?. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa Kedudukan perempuan sebagai saksi pernikahan menurut Ibnu Hazm
ialah Berbeda dengan para Jumhur Ulama terhadap kebolehan wanita menjadi
saksi dalam perkara tertentu, yaitu perkara-perkara yang menurut kebiasaan
yang tidak bisa diketahui oleh lelaki. Ibnu Hazm memiliki pendangan bahwa
kesaksian wanita dapat diterima semua hal, sebagaimana kesaksian laki-laki  dalam berbagai peristiwa hukum khususnya dalam saksi pernikahan. Relevansi
kedudukan perempuan sebagai saksi pernikahan menurut Ibnu Hazm dan KHI
adalah relevan antara pendapat Ibnu Hazm dan KHI. Akan tetapi Ibnu Hazm
menerima kesaksian perempuan dalam semua perkara dan dalam KHI sendiri
yang menjadi rujukannya adalah Kitab Imam Syafi’i dan juga pemikiran dari
Imam Hanafi, Maliki dan Hambali, sehingga ada batasan terkait perempuan
sebagai saksi.

Author Biography

Ahmad Zaini, Ilmu Syariah FSH UIN Suanan Kalijaga Yogyakarta

Mahasiswa Magister Ilmu Syariah FSH UIN Suanan Kalijaga Yogyakarta

References

Abbas, Rafid. 2015. Hadist Ahkam I. Jember: IAIN Jember.
Al-Haytami, Ibnu Hajr. 2009. al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra ‘ala Mazhab al-Imam alSyafi’i. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah.
Alinur, M. 2001.Kedudukan Wanita Dalam Islam.Bandung: Mizan.
Anshoruddin. 2004. Hukum Pembuktian Menurut Hukum Acara Islam dan Hukum Positif.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Cet. 1.
As Siba’y, Musthafa. 1977. Wanita di Antara Hukum Islam dan Perundang-Undangan,
terj. Chadijah Nasution. Jakarta: Bulan Bintang.
Ash-Shiddieqy, Tengku Muhammad Hasbi. 2001. Koleksi Hadis-Hadis Hukum
9.Semarang: PT Pustaka Rizki Putra. Cet. 3.
Az-Zuhaili, Wahbah. 2011. Fiqih Islam Wa Adillatuhu. Jakarta: Gema Insani. Jilid 8.
Departemen Agama RI. 2005. Al-Qur’an Dan Terjemahnya. Surabaya: CV. Karya
Utama.
Djalil, Basiq. 2012. Peradilan Islam.Jakarta: Amzah.
Hadi, Abdul. 2015. Fiqh Munakahat.Semarang: CV. Karya Abadi Jaya.
Hamidah, Tutik. 2001. Fiqh Perempuan Berwawasan Keadilan Gender. Malang: UINMaliki Prees. Cet. 1.
Hazm, Ibnu. Al-Muhalla, Juz IX. Beirut: Darul Fikr, t.t.
Imam Ahmad bin Hambal. Musnad Imam Ahmad bin Hambal. Beirut: Darul Fikri. Juz
III.
Khaldun, Ibnu. 1983. Al Muqaddimah, terj. Ismail Ya’kub. Jakarta: CV Faizan.
Kompilasi Hukum Islam (KHI). 2015. Hukum Perkawinan, Kewarisan, dan Perwakafan.
Bandung: CV. Nuansa Aulia.
Madkur, Muhammad Salam. Al Qodlo’ fil Islam.Kairo: Darun Nahdhah Al Arabiyah,
t.t.
Mahmassani, Sobhi. 1981. Filsafat Hukum dalam Islam, Terj. Ahmad Sudjono. Bandung:
Al Ma’arif. Cet. 2.
Moenawwir, A. Warson. 2002. Al-Munawir,Kamus Arab-Indonesia.Surabaya: Pustaka
Progresif. Cet. 25.
M. Abdul Mujieb, Mabruri Tholhah dan Syafiah (eds). 1994. Kamus Istilah Fiqih.
Jakarta: PT. Pustaka Firdaus.
Nur, Djaman. 1993. Fiqh Munakahat.Semarang: Toha Putra.
Qudamah, Ibnu. 2013. AlMughni, terj. Beni Hamzah. Jakarta: Pustaka Azzam. Jilid
15, Cet. 1.
Rahman, Fazlur. 1983. Tema Pokok Al-Qura’an, Terj. Anas Mahyuddin. Bandung:
Pustaka. Cet. 1.
Ridha, Sayyid Muhammad Rasyid. Tafsir Al-Manar. Beirut: Dar Al-Ma’arif.
Rusyd, Ibnu. 1990. Bidayatul Mujtahid.Semarang: As Syifa. Jilid III.
Sabiq, Sayyid. 2009. Fiqhus Sunnah, terj. Mujahidin Muhayan. Jakarta: Pena Pundi
Aksara. Cet. 1, Jilid 4.
Slamet Abidin dan Aminudin. 1999. Fiqh Munakahat I. Bandung: CV Pustaka Setia.
Shidiq, Sapiudin. 2011. Ushul Fiqh.Jakarta: Kencana Prenamedia Group. Cet. 1.
Suja’, Abi. al-iqna’.Semarang: CV. Toha Putra. t.th., Juz II.
Umar, Nasarudin. 1999. Argumen Kesetaraan Gender Perspektif al-Qur’an. Jakarta:
Paramadina.
Uwaidah, Syaikh Kamil Muhammad. 1998. Fiqih Wanita, terj. M. Abdul Ghoffar.
Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Yunus, Mahmud. 2010. Kamus Arab-Indonesia.Jakarta: PT. Mahmud Yunus Wa
Dzurriyyah.
Published
2020-02-17
Section
Articles